Studi Kelayakan Bisnis dalam Rencana Usaha untuk Entrepreneur

Updated on

Dalam konten ini akan membahas bagaimana menyusun studi kelayakan bisnis, serta perencanaan usaha yang akan dijalankan.

Studi Kelayakan Bisnis

Pengertian Studi Kelayakan Bisnis

Studi kelayakan bisnis adalah riset atau penelitian yang menyangkut berbagai aspek.

Baik itu dari aspek hukum, sosial ekonomi serta budaya, aspek pasar serta pemasaran, aspek teknis serta teknologi sampai dengan aspek manajemen serta keuangannya.

Hasil penelitiannya digunakan untuk mengambil sebuah keputusan usaha.

Pengertian Menurut Ahli

Suatu kegiatan yang mempelajari secara mendalam tentang suatu usaha atau bisnis yang akan dijalankan, dalam rangka menentukan layak atau tidak usaha tersebut dijalankan.

Kasmir dan Jakfar (2012:7)

Penelitian sebuah rencana bisnis yang bukan hanya menganalisis layak atau tidaknya suatu bisnis dijalankan, tetapi juga mengontrol kegiatan operasional secara rutin dalam rangka pencapaian tujuan serta keuntungan yang maksimal.

Umar H (2007:5)

Pentingnya Studi Kelayakan Bisnis

Sebelum bisnis dikembangkan terlebih dahulu harus diadakan penelitian tentang apakah bisnis yang akan dirintis menguntungkan atau tidak.

Bila menguntungkan, apakah keuntungan itu memadai dan dapat diperoleh secara kontinyu dalam waktu yang lama?

Secara teknis mungkin saja usaha itu layak dilakukan, tetapi secara ekonomis dan sosial kurang memberikan manfaat.

Untuk itu, ada dua studi analisis yang dapat digunakan untuk mengetahui layak tidaknya suatu bisnis dimulai atau dikembangkan, yaitu sebagai berikut.

  1. Studi Kelayakan Usaha (Feasibility Study of Businesses)
  2. Analisis SWOT (SWOT analysis, yaitu Kekuatan (Strenght), Kelemahan (Weaks), Peluang (Opportunity), dan Ancaman (Trath)

Studi yang akan dibahas adalah yang pertama.

Dalam studi ini, pertimbangan ekonomis dan teknis sangat penting karena akan dijadikan dasar implementasi kegiatan usaha.

Hasil studi kelayakan bisnis pada prinsipnya bisa digunakan antara lain.

  1. Untuk merintis usaha baru, misal: untuk membuka toko, membangun sebuah pabrik, mendirikan perusahaan jasa, dan membuka usaha dagang.
  2. Mengembangkan usaha yang sudah ada, misalnya untuk menambah kapasitas pabrik untuk memperluas skala usaha, untuk memperluas cakupan usaha, dan sebagainya.
  3. Untuk memilih jenis usaha atau investasi yang paling menguntungkan, misalnya pilihan usaha dagang, pilihan usaha barang atau jasa, pabrikasi atau asemblasi, proyek A atau proyek B, dan lain sebagainya.

Adapun pihak yang memerlukan dan berkepentingan dengan studi kelayakan usaha di antaranya sebagai berikut.

Pihak wirausaha (pemilik perusahaan)

Memulai bisnis atau mengembangkan bisnis yang sudah ada sudah barang tentu memerlukan pengorbanan yang cukup besar dan selalu dihadapkan ketidakpastian.

Dalam kewirausaan, studi kelayakan bisnis sangat penting dilakukan supaya kegiatan bisnisnya tidak mengalami kegagalan yang buruk.

Demikian juga bagi penyandang dana yang memerlukan persyaratan tertentu seperti bankir, investor dan pemerintah.

Studi kelayakan usaha berfungsi sebagai laporan, pedoman dan sebagai bahan pengambilan keputusan untuk merintis usaha, untuk mengembangkan usaha atau untuk melakukan investasi baru.

Sehingga bisnis yang akan dilakukan menyakinkan baik wirausaha itu sendiri maupun bagi semua pihak yang berkepentingan.

Pihak investor dan penyandang dana

Bagi investor, studi kelayakan usaha penting untuk memilih jenis investasi yang paling menguntungkan dan sebagai jaminan atas modal yang ditanamkan.

Apakah investasi yang dilakukannnya memberikan jaminan pengembalian investasi (return on invesent) yang memadai atau tidak.

Oleh investor, studi kelayakan usaha sering digunakan sebagai bahan pertimbangan layak tidaknya sebuah investasi dilakukan.

Pihak masyarakat dan pemerintah

Bagi masyarakat studi kelayakan usaha sangat diperlukan terutama sebagai bahan kajian apakah usaha yang didirikan atau dikembangkan bermanfaat bagi masyarakat sekitarnya atau sebaliknya malah merugikan.

Bagaimana dampak lingkungannya, apakah positif atau negatif?

Demikian juga bagi pemerintah sangat penting untuk mempertimbangkan izin usaha atau penyediaan fasilitas lainnya.

Tahapan Studi Kelayakan Bisnis

Berdasarkan tahapannya, tahapan studi kelayakan usaha sebelum mendirikan suatu usaha, yaitu sebagai berikut:

Tahap penemuan ide

Tahap penemuan ide ialah tahap tempat Wirausaha memiliki ide untuk merintis usaha barunya.

Ide tersebut kemudian dirumuskan dan diidentifikasi, misalnya kemungkinan-kemungkinan bisnis apa saja yang paling memberikan peluang untuk dilakukan dan menguntungkan dalam jangka waktu yang panjang.

Banyak kemungkinannya, misalnya:

Tahap penemuan ide

Tahap penelitian

Tidak semua ide bisnis dapat di jalankan, perlu dilakukan penelitian yang lebih in-depth dan lengkap sesuai dengan metode ilmiah.

Dimulai dengan mengumpulkan data dan informasi, mengolah data dengan teori yang relevan, menganalisis data dengan analisis yang sesuai, menyimpulkan hasil, kemudian dibuat jurnal laporan dari hasil penelitian pada tahap ini.

Hingga diketahui bagaimana hasil yang optimal dan mampu menghasilkan solusi baru dalam perkembangan bisnis.

Evaluasi

Evaluasi dalam studi kelayakan usaha merupakan sebuah proses untuk membandingkan ide satu dengan ide satu lain menggunakan beberapa kriteria yang bersifat kuantitatif dan kualitatif.

Hal ini terkait biaya yang dikeluarkan dan manfaat yang kelak akan diperoleh.

Dari hasil evaluasi ini dapat diketahui apa saja beban biaya, keuntungan yang bisa dijadikan untuk membangun usaha.

Pengurutan usulan yang layak

Tahap penemuan ide yang baik, seharusnya menghasilkan beberapa usulan.

Dari bebebrapa ide tersebut, perlu dilakukan pemilihan rencana bisnis yang memiliki skor tertinggi dalam tahap evaluasi yang telah dilakukan pada tahap sebelumnya.

Rencana Pelaksanaan

Setelah menetapkan ide yang akan menjadi rencana bisnis, tahap selanjutya menyusun rencana kerja untuk merealisasikan bisnis tersebut.

Tahap ini harus di lewati dengan teliti namun tetap efisien agar ide dapat di uji secepat mungkin.

Tahap Pelaksanaan

Tahapan akhir pada studi kelayakan bisnis adalah merealisasikan semua rencana yang telah disusun dan di sepakati.

Jika proses pembangunan bisnis dapat berjalan dengan lancar dan bisnis sudah establish, maka tahap selanjutnya adalah scaling-up dan melakukan operasional bisnis secara rutin sesuai rencana awal.

Tujuan Studi Kelayakan Bisnis

Tujuan utama dari studi kelayakan bisnis adalah untuk mengidentifikasi resiko kegagalan dari kegiatan usaha.

Mengapa perusahaan yang akan didirikan sebaiknya melakukan studi kelayakan usaha terlebih dahulu?

Menurut Kasmir dan Jakfar (2007) ada lima tujuan mengapa perlu dilakukan studi kelayakan sebelum melakukan sebuah usaha, yaitu:

Menghindari resiko kerugian

Meminimalkan risiko yang dapat dikendalikan maupun yang tidak dapat dikendalikan.

Sehingga perlu untuk melakukan analisis studi kelayakan untuk menekan kemungkinan resiko.

Mempermudah perencanaan

Dengan adanya perkiraan kondisi dimasa yang akan datang, maka memudahkan untuk membuat perencanaan.

Perencanaan meliputi jumlah modal yang dibutuhkan, waktu pelaksanaan, lokasi, tata cara pelaksanaan, besarnya keuntungan serta bagaimana pengawasan bila terjadi penyimpangan.

Memudahkan pelaksanaan pekerjaan

Proses bisnis dapat dilakukan secara terorganisir sehingga para pekerja yang terlibat dapat memiliki pedoman dan tetap fokus pada tujuan.

Sehingga rencana bisnis dapat tercapai sesuai atau bahkan lebih baik dengan apa yang direncanakan.

Memudahkan pengawasan

Jika pelaksanaan sesuai dengan rencana yang sudah disusun, maka pengawasan dalam proses bisnis akan lebih mudah.

Pengawasan perlu dilakukan, agar operasional usaha tetap pada jalur yang benar dan sesuai dengan apa yang telah direncanakan.

Memudahkan pengendalian

Bila terjadi ketidak sesuaian, akan mudah untuk menanganinya dan dapat langsung untuk dikendalikan sehingga tidak berdampak luas terhadap seluruh kegiatan usaha.

Analisis Studi Kelayakan Bisnis

Analisis Studi Kelayakan Bisnis

Di atas telah jelaskan untuk mengetahui layak tidaknya suatu bisnis yang akan dilakukan harus dianalisis dari berbagai aspek.

Di bawah ini adalah kriteria yang dapat dijadikan aspek penilaian yaitu sebagai berikut.

Analisis aspek pemasaran

Untuk menganalisis aspek pemasaran, seorang wirausaha terlebih dahulu harus melakukan penelitian pemasaran dengan menggunakan sistem informasi pemasaran yang memadai.

Apakah berdasarkan analisis dan prediksi, bisnis yang akan dikembangkan memiliki peluang pasar yang cukup besar.

Dalam analisis pasar, biasanya ada beberapa komponen yang harus dianalisis di antaranya berikut ini.

1. Kebutuhan dan keinginan konsumen

Barang dan jasa apa yang banyak dibutuhkan dan diinginkan konsumen? Berapa banyak yang mereka butuhkan? Bagaimana daya beli mereka?

Jika Kebutuhan dan keinginan mereka teridentifikasi dan kemungkinan terpenuhi berarti peluang pasar bisnis terbuka dan layak bila dilihat dari kebutuhan konsumen.

2. Segmentasi pasar

Pelanggan dikelompokkan dan diidentifikasi misalnya berdasarkan geografi, sosial budaya dan demografis.

Jika segmentasi pasar teridentifikasi, sasaran pasar akan semakin terlihat dan semakin mudah diwujudkan.

3. Target

Target pasar menyangkut banyaknya konsumen yang dapat diraih. Berapa target yang ingin dicapai? Apakah konsumen loyal terhadap bisnis kita?

Sangat bergantung pada nilai produk dan jasa yang dipasarkan apakah memberi kepuasan atau tidak. Jika loyal, potensi pasar tinggi.

4. Nilai tambah

Wirausaha harus mengetahui nilai tambah produk pada setiap rantai pemasaran. Nilai tambah barang dan jasa biasanya diukur dengan harga.

Misalnya berapa harga dari pabrik, berapa harga setelah di agen, dan berapa harga setelah ke konsumen.

Dengan mengetahui nilai tambah setiap rantai pemasaran, maka nilai tambah bisnis akan segera diketahui tinggi atau rendah, dari situlah bisnis akan memberi keuntungan yang tinggi.

5. Masa hidup produk

Apakah masa hidup produk bertahan lama atau tidak.

Apakah ukuran lama masa produk lebih dari waktu yang dibutuhkan untuk menghasilkan laba sampai modal kembali atau tidak?

Jika masa produk lebih lama berarti potensi pasar tinggi, harus dianalisis juga apakah produk industri baru atau industri lama yang sudah mapan atau produk industri yang sedang menurun.

Jika produk industri baru yang sedang tumbuh, potensi pasar tinggi.

6. Struktur pasar

Produk yang akan dipasarkan termasuk monopolistic competation ataukah termasuk pasar persaingan sempurna.

Jika barang dan jasa termasuk jenis pasar persaingan tidak sempurna (monopoli, oligopoli, atau monopolistic competation) berarti potensi pasar tinggi, sedangkan bentuk lainnya kurang potensial.

6. Persaingan dan strategi pesaing

Harus dianalisis apakah tingkat persaingan tinggi atau rendah. Jika tinggi bahkan ketat, berarti peluang pasar rendah.

Wirausaha harus membandingkan keunggulan pesaing, misalnya apakah dilihat dari strategi produk, strategi harga, strategi jaringan distribusi, dan strategi promosinya lebih unggul?

Bagaimana tingkat teknologinya?

Jika pesaing lebih unggul berarti bisnis yang akan dirintis atau dikembangkan lemah dalam persaingan.

Untuk memenangkan persaingan tentu saja bisnis tersebut harus lebih unggul ketimbang pesaing.

7. Ukuran pasar

Ukuran pasar dapat dianalisis dari volume penjualan. Jika volume penjualan tinggi berarti pasar potensial.

Misalnya, untuk volume penjualan usaha skala kecil sebesar Rp5 miliar per tahun atau sebesar Rp10 Juta per hari, berarti ukuran pasar cukup besar.

8. Pertumbuhan pasar

Pertumbuhan pasar dapat dianalisis dari pertumbuhan volume penjualan.

Jika penjualan pasar tinggi (misalnya lebih dari 20 persen), berarti potensi pasar tinggi.

9. Laba kotor

Apakah perkiraan margin laba kotor tinggi atau rendah? Jika profit margin kotor lebih dari 20 persen berarti pasar potensial.

Jika margin kecil, cobalah untuk mencari sumber pendapatan lain yang dapat menutup.

Misal, PT KAI tidak bisa mendapatkan keuntungan yang besar dari tiket, karena harga maksimal sudah diatur pemerintah.

Namun PT KAI bisa mengoptimalkan pendapatannya seperti menjual space iklan pada stasiun dan gerbong, menyewakan toko (kantin di stiap stasiun).

10. Pangsa pasar

Pangsa pasar bisa dianalisis dari selisih antara jumlah barang dan jasa yang diminta dengan jumlah barang dan jasa yang ditawarkan.

Jika pangsa pasar menurut proyeksi meningkat bahkan setelah lima tahun mencapai 40 persen, berarti bisnis yang akan dilakukan atau dikembangkan memiliki pangsa pasar yang tinggi.

Bila pemasaran global layak, analisis berikutnya adalah aspek produksi atau operasi.

Analisis aspek produksi atau operasi

Beberapa unsur dari aspek produksi atau operasi yang harus dianalisis, di antaranya sebagai barikut.

cara membuat business plan

1. Lokasi operasi

Untuk bisnis hendaknya dipilih lokasi yang paling strategis dan paling efisien baik bagi perusahaan itu sendiri maupun bagi pelanggannya.

Misalnya, dekat ke pemasok, dekat ke konsumen, dekat ke alat transport atau di antara ketiganya. Disamping itu lokasi bisnis harus menarik agar konsumen loyal.

2. Volume operasi

Volume operasi harus relevan dengan potensi pasar dan prediksi permintaan sehingga tidak terjadi kelebihan dan kekurangan kapasitas.

Operasi yang berlebihan akan menimbulkan permasalahan baru dalam penggudangan yang pada akhirnya memengaruhi harga pokok penjualan.

3. Mesin dan peralatan

Mesin dan peralatan harus sesuai dengan perkembangan teknologi masa kini dan masa yang akan datang, serta harus disesuaikan dengan luas produksi supaya tidak terjadi kelebihan kapasitas.

4. Bahan baku dan bahan penolong

Bahan baku dan bahan penolong serta sumber daya yang diperlukan harus cukup tersedia. Persediaan tersebut harus sesuai dengan kebutuhan sehingga persediaan tersebut etisien.

5. Tenaga kerja

Berapajumlah tenaga kerja yang diperlukan dan bagaimana kualifikasinya.

Jumlah dan kualitikasi Karyawan harus disesuaikan dengan keperluan jam kerja dan kualifikasi pekerjaan untuk menyelesaikan pekerjaan itu, supaya lebih tepat, lebih cepat dan lebih hemat.

6. Lay out

Adalah tata ruang atau tata letak berbagai fasilitas operasi. Lay out harus tepat dan prosesnya praktis sehingga efisien.

Bila aspek pemasaran dan operasi layak, analisis aspek manajemennya.

Analisis aspek manajemen

Dalam menganalisis aspek-aspek manajemen ada beberapa unsur yang harus dianalisis.

1. Kepemilikan

Apakah unit bisnis yang akan didirikan milik pribadi (perseorangan) atau milik bersama seperti CV, PT dan bentuk badan usaha lainnya.

Apa saja keuntungan dan kerugian dari unit bisnis yang kita pilih tersebut? Hendaknya dipilih yang tidak berisiko terlalu tinggi dan menguntungkan.

2. Organisasi

Bagan organisasi apa yang diperlukan? Apakah organisasi lini, organisasi staf, lini dan staf, atau bentuk lainnya.

Tentukan jenis yang paling tepat dan efisien, struktur organisasi seharusnya fleksibel. Jangan membuat birokrasi menjadi rumit.

3. Tim Manajemen

Apakah bisnis akan dikelola sendiri atau melibatkan orang lain Secara profesional bergantung pada skala usaha dan kemampuan yang dimiliki Wirausaha.

Bila bisnisnya besar, buat tim manajemen yang solid dan agile.

4. Karyawan

Karyawan harus disesuaikan dengan jumlah, kualifikasi dan kualitas yang diperlukan.

Bila dari analisis ketiga aspek di atas tidak menimbulkan permasalahan, analisis bisnis dapat diteruskan kepada analisis aspek keuangan.

Setelah aspek pemasaran, operasi, dan manajemen layak, maka analisis berikutnya adalah aspek keuangan.

Analisis aspek keuangan pada studi kelayakan bisnis

Analisis aspek keuangan meliputi komponen-komponen sebagai berikut.

1. Kebutuhan dana

Yaitu Kebutuhan dana untuk operasional perusahaan, misalnya berapa besarnya dana untuk aktiva tetap, untuk modal kerja dan pembiayaan awal.

2. Sumber dana

Seperti telah dijelaskan di atas ada beberapa sumber dana yang layak digali, yaitu sumber dana internal (misalnya modal yang disetor, laba yang ditahan, penyusutan) dan modal eksternal (misalnya saham-saham, obligasi dan pinjaman).

3. Proyeksi neraca

Sangat penting untuk mengetahui posisi harta kekayaan serta untuk mengetahui kondisi keuangan lainnya.

Misalnya, posisi aktiva tetap, pasiva lancar, kewajiban jangka panjang dan kekayaan bersih.

4. Proyeksi rugi dan laba

Proyeksi rugi dan laba dari tahun ke tahun menggambarkan perkiraan laba atau rugi di masa yang akan datang.

Komponen rugi dan laba meliputi proyeksi penjualan, proyeksi biaya dan proyeksi rugi atau laba bersih.

5. Proyeksi aliran kas (Cash flow)

Dari aliran kas dapat dilihat kemampuan perusahaan untuk melaksanakan kewajiban-kewajiban keuangannya. Ada tiga jenis aliran kas, yaitu sebagai berikut.

  1. Aliran kas masuk (cash in how), merupakan penerimaan penerimaan yang berupa hasil penjualan atau pendapatan.
  2. Aliran kas keluar (cash out flow), merupakan biaya-biaya termasuk pembayaran bunga dan pajak.
  3. Aliran kas bersih (net cash in-how), merupakan selisih dari aliran kas masuk dan aliran kas keluar ditambah penyusutan dengan diperhitungkan bunga Setelah pajak

6. Perhitungan kreteria investasi

Dari perhitungan arus kas maka dibuat suatu kelayakan usaha yang didasarkan pada aspek keuangan.

Tolok ukur dari kelayakan tersebut ditentukan oleh beberapa perhitungan sebagai berikut.

  1. Payback
  2. Net present value
  3. Internal rate of return
  4. Benefit cost ratio

Penyusunan Studi Kelayakan Bisnis

Setelah menganalisis berbagai aspek bisnis dengan secermat mungkin dan secara ekonomis dinyatakan layak, langkah selanjutnya menyusun laporan studi kelayakan.

Sistematika laporan studi kelayakan pada umumnya dapat di download dalam bentuk .doc disini.

Setelah menyusun rencana dan kelayakan usaha. Anda harus memulai mempelajari bagaimana membangun tim yang handal dan tangguh di arikel ini.

Apakah artikel ini bermanfaat?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *