Membangun Tim Startup yang Tangguh dan Hebat

Diposting pada

Membangun tim startup yang bekerja sama dengan baik tidak mudah seperti yang dibayangkan. Tantangan awal ketika membangun tim adalah proses rekrutmen.

membangun tim startup

Proses rekrutmen untuk menentukan siapa yang pantas bergabung ke tim startup kamu. Awalnya, kamu hanya berdua atau bertiga dengan founder lainnya.

Namun, ketika kamu sudah mendapat respons dari pasar dan sudah mendapat kucuran dana dari pemodal ventura, selanjutnya adalah membangun tim yang kuat agar startup kamu terus bertumbuh.

Kami akan membagikan step by step bagaimana membangun tim startup, baik dari pengalaman startup yang sukses di Silicon Valley maupun pengalaman saya pribadi dalam menjalankan startup.

The Founder’s Dilemmas

Salah satu buku tentang membangun tim startup yang baik yang patut untuk dibaca adalah The Founder’s Dilemmas.

Buku ini membahas dilema-dilema yang dialami oleh seorang pendiri startup.

Salah satu dilema tersebut adalah dalam hal merekrut orang baru masuk ke timnya. Sebagai pendiri, kamu akan mempunyai banyak opsi ketika mempekerjakan karyawan.

Tidak ada pilihan yang benar-benar tepat atau salah, tetapi setiap pilihan mempunyai konsekuensi. Merekrut teman, keluarga, atau orang asing?

Hire anak muda, staf yang antusias, atau karyawan yang berpengalaman?

Merekrut orang yang sudah berpengalaman di startup atau pengalaman bekerja di organisasi atau korporat?

Pertanyaan mengenai rekrutmen dan mempertahankan bakat-bakat bagus di dalam startup kamu merupakan pertanyaan tanpa akhir.

Salah satu solusi untuk startup adalah mempertimbangkan kelebihan pengembangan bakat di internal sehingga dapat menekan biaya secara efektif dan menjamin kualitas karyawan dan loyalitasnya.

Anak Kecil, membesarkan Bayi

Hasil riset menunjukkan bahwa startup yang baru bergerak (muda), sebagian besar, akan mempekerjakan karyawan muda pula, terutama di area yang mengutamakan inovasi dan pengembangan teknologi.

Startup muda mempekerjakan karyawan muda dengan kapasitas untuk belajar dan tumbuh bersama pengembangan startup.

Namun, karyawan muda cenderung tidak betah, mempunyai turnover yang tinggi karena mereka mencari tempat terbaik yang sesuai dengan pengembangan skill mereka.

Dengan demikian, dalam mempekerjakan karyawan muda dan kurang pengalaman, dorong mereka untuk mengembangkan skill yang sesuai dengan bakat dan tanggung jawab pekerjaan sehingga dapat mengurangi tingkat turnover karyawan.

Jangan khawatir jika tim kamu masih terdiri atas kamu dan teman kamu sebagai co-founder.

Kemudian kamu rekrut tambahan tenaga menjadi, katakanlah, 7 orang sudah termasuk kamu dan teman kamu. Walaupun dengan tim yang ramping, kamu tetap bisa melayani banyak pelanggan.

Tahukah kamu, jika startup bernama Basecamp hanya memiliki 35 karyawan dan melayani lebih dari 300.000 pelanggan berbayar.

Jadi, satu karyawan untuk setiap 9.000 pelanggan.

Selain itu, tahukah kamu startup Buffer, yang hanya terdiri atas 23 orang tetapi melayani hingga 700.000 pelanggan, satu orang karyawan untuk 30.000 pelanggan.

Jadi kesimpulannya, jangan khawatir jika tim kamu masih ramping.

Rekrut DOERS

Sebagai startup, apa yang sebaiknya kamu lakukan dalam merekrut karyawan baru?

Pada awalnya, fokus kamu adalah membuat produk dan mengantarkan produk ini ke tangan pelanggan.

Kamu tidak perlu khawatir untuk masalah akunting, legal, operasional, SDM, dan sebagainya.

Namun, yang perlu kamu perhatikan adalah pastikan orang yang kamu rekrut merupakan orang yang bisa menuntaskan seluruh pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya atau doers/pelaku.

Posisi

Jika kamu menguasai teknikal dalam pengembangan startup, orang yang kamu butuhkan untuk melengkapi adalah orang sales yang mendatangkan penjualan ke startup kamu.

Sebaliknya, jika kamu bukan ahlinya di pengembangan teknis, kamu harus cari orang yang mengembangkan teknisnya misalnya software developer.

Kamu harus tahu posisi mana yang lebih penting dan mendesak untuk diisi oleh karyawan baru.

Rekrut vs Partner

Kamu bisa saja rekrut seseorang di satu sisi secara full time, tetapi apakah perlu saat ini?

Bisa jadi kamu hanya cukup outsource atau cari partner dari luar yang bisa mereka kerjakan di luar tanpa perlu kamu gaji dan bayar tetap terus setiap bulannya sehingga tidak memberatkan keuangan kamu di saat-saat awal. Kamu bisa pula menggaet partner.

Ajak teman kamu untuk menjadi co-founder sehingga kamu tidak perlu membayar gajinya. Konsekuensinya, kamu merelakan sebagian saham perusahaan untuknya.

Full Time VS Kontrak

Kamu harus bisa mementukan apakah akan mempekerjakan karyawan full time dan menjadi karyawan tetap kelak atau cukup dengan sistem kontrak terlebih dahulu, misalnya satu tahun dan kemudian dapat diperpanjang.

Jika karyawan baru ini memegang posisi strategis dan sangat membantu jalannya bisnis startup, kamu bisa tawarkan mereka full time.

Sebaliknya, jika posisi yang kamu tawarkan tidak strategis dan kamu lihat karyawan tersebut masih perlu waktu untuk membuktikan kinerja mereka, opsi karyawan kontrak tampaknya lebih baik daripada full time.

Identifikasi Kandidat

Jika sudah siap mencari kandidat karyawan, kamu bisa membuat flyer untuk lowongan kerja.

Untuk menghemat biaya, kamu bisa menggunakan channel yang kamu punya, seperti di media sosial, di forum online, atau menggunakan koneksi almamater kamu.

Bila kamu siap menyediakan dana untuk beriklan, bisa manfaatkan situs lowongan kerja, seperti Techinasia, kalibrr dll.

Interview

Jika kamu sudah dapatkan kandidat dari seluruh iklan yang telah kamu sebar, langkah selanjutnya adalah interview.

Interview bisa kamu lakukan secara formal atau semiformal. Kamu panggil mereka ke “kantor”. Saya berikan tanda kutip karena “kantor” di sini bisa punya banyak makna.

Bisa jadi kamu panggil kandidat untuk interview di sebuah kafe. Jadi, tidak mesti kantor itu adalah kantor dalam makna yang sebenarnya.

Bagi startup, kadang kantor adalah rumahnya, rumah adalah kantornya, dan bisa bekerja di mana saja.

Sudah banyak contoh startup yang sukses di dunia mulai dari garasi rumah, seperti Apple atau sebuah apartemen kecil seperti Alibaba.

Tes

Tentu kamu tidak ingin membeli kucing dalam karung. Kamu harus melakukan tes terlebih dahulu terhadap setiap kandidat. Kamu berikan tugas kecil dengan tenggang waktu yang singkat.

Kemudian, lihat hasilnya apakah kandidat bisa menyelesaikan tugasnya dengan baik?

Dalam proses seleksi ini, kamu akan uji kandidat mana yang terbaik yang bisa menampilkan hasil yang kamu harapkan.

Kamu harus tegas di sini, jika mereka gagal memenuhi harapan kamu, lebih baik kamu pertimbangkan ulang dan cari kandidat lain yang lebih baik lagi.

Rekrut

Filosofi yang disampaikan oleh Alex, CEO dan founder startup Groove, berikut ini cukup bagus. la mengatakan bahwa startup tidak merekrut karyawan, tetapi merekrut anggota tim, dan merekrut partner.

Anggota tim yang baru masuk membentuk kesatuan tim yang saling berkolaborasi untuk membangun sesuatu yang luar biasa.

Tentu, kamu memang pendiri dan pemilik startup tersebut.

Namun, ketika bekerja pada startup, tidak ada senioritas, yang ada hanya sekelompok orang yang bekerja sebaik mungkin untuk memberikan nilai kepada pelanggan.

Membangun Tim Startup Setelah Rekrutmen

Proses membangun tim tidak berhenti pada proses rekrutmen selesai. Setelah rekrutmen pun banyak hal yang perlu kamu perhatikan, seperti budaya kerja.

Beberapa startup dunia memprioritaskan kandidat yang sesuai dengan budaya kerja yang telah terbangun di startup tersebut.

Idealnya, sebuah startup memiliki 3 kompetensi founder sebagai berikut.

  • Seseorang yang mengerti bagaimana mengembangkan teknologi dan sistem untuk memecahkan masalah.
  • Seseorang yang mengerti faktor manusia di balik masalah tersebut, kenapa eksis, apa yang diperlukan untuk menyelesaikannya, dan bagaimana memengaruhi pengalamannya.
  • Dengan kata lain, orang yang mampu mengenali, memetakan, dan mencari solusi atas masalah yang ada.
  • Seseorang yang mengerti bagaimana menjangkau, berbicara, dan menjual kepada orang yang masalahnya ingin dipecahkan dan terus mencari lebih banyak lagi yang mirip dengan masalah orang tersebut.

Idealnya ada 2 atau 3 orang founder yang memiliki skill atau kompetensi di antara ketiganya dan menguasai 3 kompetensi di atas.

Kamu bisa lihat Apple yang didirikan oleh Steve Jobs dan Steve Wozniak. Startup ini memiliki perpaduan 2 founder dengan kompetensi yang saling melengkapi dan sempurna sehingga Apple menjadi besar seperti sekarang ini.

3 thoughts on “Membangun Tim Startup yang Tangguh dan Hebat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *