Tips dan Cara Mengembangkan Usaha yang Awalnya Cuma Iseng

Diposting pada

Jika Anda sedang menjalankan sebuah usaha kecil, kerap kali akan terfikir bagaimana cara mengembangkan usaha yang sudah jalan tersebut?

cara mengembangkan usaha

Kita mungkin kerap bertemu dengan rekan atau keluarga yang menawarkan produk dagangan. Apapun itu, entah makanan, keperluan rumah tangga, produk kesehatan, dan lainnya.

Seiring berjalannya waktu, kerap kali usaha “iseng” ini membuahkan hasil.

Tentu saat usaha berhasil merupakan berkah tersendiri karena Anda memiliki sumber pendapatan baru.

Apalagi bagi satu keluarga yang sudah mapan, suami atau istri bekerja, ditambah dengan pendapatan dari usaha yang ditekuni.

Namun jangan salah, bila usaha yang diawali dari iseng tersebut tak dikelola dengan baik dan manajemen seadanya, justru akan membebani sumber keuangan.

Lalu, apa saja cara cara mengembangkan usaha ala-ala tersebut?

Memisahkan rekening

Bila usaha telah berjalan dan menunjukkan perkembangan yang menggembirakan, hal pertama yang harus dilakukan yakni memisahkan rekening usaha dengan pribadi.

Tujuannya, agar setiap transaksi usaha maupun untuk kebutuhan pribadi dapat dipantau dengan mudah.

Pemisahan rekening ini berguna pula untuk melihat sejauh mana dana yang diperoleh dari hasil usaha ini dapat dioptimalkan untuk mengembangkan bisnis yang ditekuni.

Perencana bisnis dan keuangan Ahmad Gozali mengingatkan fondasi utama membangun sebuah usaha yakni memperhatikan:

  • Aspek pasar
  • Kekuatan keuangan
  • Legalitas, dan
  • Sumber daya manusia

Jangan berhutang

Dalam memulai usaha takbisa dipungkiri modal merupakan hal utama yang menjadi perhatian.

Tak jarang orang nekat mencari pinjaman tanpa memikirkan kesanggupan untuk mengembalikannya.

Utang pada dasarnya tidak buruk, sepanjang dia bisa mengatur pengembaliannya.

M. Andoko

Beberapa hal yang dapat ditempuh untuk meminimalisasi utang dalam memulai usaha adalah, harus diperhatikan jenis usaha yang dimasuki.

Apabila jenis usahanya di bidang jasa, itu akan lebih mudah tmtuk menghindari utang karena lini bisnis itu lebih pada kekuatan sumber daya manusianya.

Berbeda bila usaha yang dipilih adalah bidang produksi. Di mana dalam kegiatannya dibutuhkan dana untuk pembelian bahan baku dan itu harus terus-menerus tidak bisa putus.

Untuk memulai bidang usaha di sektor industri, mau tidak mau harus memiliki dana yang cukup dan itu harus disiapkan terlebih dahulu. Minimal kebutuhan dana untuk pembelian bahan baku selama tiga bulan terpenuhi.

Lanjut atau pivot

Banyak cara dan kesempatan untuk menjadi wirausaha. Namun, tidak semua orang berhasil menjadi pengusaha dengan bidang tertentu.

Bagaimana jika bisnis yang sedang dinalankan cenderung merugi?

Saat Itu biasanya Anda akan dihadapkan pada dua pilihan sulit, meneruskan bisnis tersebut atau putar haluan ke bidanglain.

Banyak kisah mengenai dua keputusan tersebut, ada yang suksa dan tidak sedikit kegagalan.

Vivanti Ayu Damarsasi merupakan salah satu contoh sukses bagaimana memutuskan untuk bertahan dengan sebuah
bisnis yang terbilang sangat spesifik, yaitu bisnis kuliner (masakan India).

Harus diakui pilihan itu termasuk kurang populer dibandingkan dengan makanan negara lain seperti China, Jepang
atau Thailand.

Awalnya ibu satu anak ini berpatungan bersama beberapa kanan untuk membeli lisensi waralaba sebuah brand restoran India.

Sayangnya, terjadi sengketa dengan pemilik brand, mulai dari menurunnya kualitas makanan dari pemegang lisensi hingga tenaga kerja.

Ayu pun memberanikan diri memutus kerja sama dan mulai membuka restoran lagi bersama salah satu rekannya. Restoran tersebut berjalan dengan baik hingga meraih pendapatan puluhan juta per hari.

Sayangnya, kerja sama tersebut kembali tidak berjalan lancar sehingga lagi-lagi harus memulai yang baru dari nol, mulai dari modal, konsep, karyawan, menu, hingga brand baru yang telah dipatenkan.

Berbeda dengan Ayu yang setia pada satu bisnis, Loemongga Haoemasan, Presdir PT Asiana Lintas Development, berpendapat dirinya banyak mencoba berbagai bidang sebelum akhirnya mantap di bisnis properti.

Sebelum sukses di bisnis properti yang dimulai pada 2004, Loemongga sempat mengalami jatuh bangun mencoba berbagai usaha setelah memutuskan keluar dari pekerjaan lamanya di sebuah bank.

Berbagai usaha dijalaninya mulai dari restoran, katering, butik hingga sekolah berkonsep home schooling.

Pada awalnya, hampir semua sukses, tetapi ternyata dia memiliki kelemahan di sisi operasional sehingga usahanya berantakan.

Membangun kemitraan yang kokoh

Setelah mengeyaluasi seluruh kegagalan, ternyata perempuan pebisnis itu melihat benang merah.

Alhasil, ketika mulai masuk di bisnis properti, dia mencari mitra yang kuat disisi operasional, sementara dirinya mengurus keuangan, legal, dan pemasaran.

Proses mencari rekan kerja dilakukan dengan menghubungi jaringannya terdahulu, termasuk mencari kecocokan, mimpi dan visi yang sama serta bisa menutupi kekurangan dalam berbisnis.

Intinya, mencari mitra yang tepat untuk saling mengisi.

Saat anal berbisnis properti, Loemongga mengajak sekitar 25 orang untuk mengembangkan lahan seluas 2.000 meter persegi di Jalan Bangka, Jakarta atau lebih dikenal sebagai Rmnah Bangka.

Kerja sama dengan sistem bagi hasil juga dilakukan dengan arsitek dan desainer, karena terbatasnya modal.

Hermawan Kartajaya dalam bukunya Targeting menjelaskan bahwa pemilihan segmen pasar yang tepat sangat penting agar usaha bisa mencapai volume penjualan yang cukup besar dan memperoleh keuntungan, sehingga usaha bertahan dan maju.

Segmen yang tepat bisa diukur secara kuantitas, mampu menghasilkan volume penjualan yang ditargetkan, terjangkau oleh metode distribusi serta sensitif terhadap berbagai program pemasaran yang dilakukan.

Belajar reallstls dari RIM

Berita bahwa Research In Motion atau RIM sebagai pembuat smartphone BlackBerry lebih memilih Malaysia sebagai tempat basis produksi mereka dibandingkan dengan Indonesia.

Secara telak data penjualan BlackBerry menunjukkan, Malaysia hanya menyerap 400.000 unit smartphone tersebut dibandingkan dengan penjualan di Indonesia yang mencapai 4 juta unit yang berarti ceruk pasar di negeri jiran itu hanya sepersepuluh dari Indonesia.

Namun RIM nampaknya cukup pede meskipun bakalan menghadapi sentimen pengguna BB di sini yang ogah menggunakan produk buatan tetangga.

Bagaimanapun bersikap realistis boleh-boleh saja, apalagi jika ujung-ujungnya duit.

Meskipun ada hal-hal yang dikorbankan ketika melakukan pilihan tersebut, mana yang paling menguntungkan itulah yang dicari.

Terutama dalam berinvestasi jangan cuma mau untung saja, melainkan harus bersikap realistis terhadap biaya, pesimistis dengan risiko maka barulah optimistis dengan return sangat diperlukan.

Roger Hamilton dalam bukunya W’ink and Grow Rich memberikan nasihat kepada kita bahna pengusaha sukses juga harus mahir dan cerdik mengelola dan mengembangbiakkan kekayaannya dengan cara-cara sederhana tetapi efektif.

Pada saat yang sama, mereka dituntut harus bisa terus bertahan dan meminimalisasi risiko kegagalan dengan cara-cara yang praktis apabila terjadi perubahan-perubahan yang cukup drastis di dalam perkembangan bisnis seperti krisis ekonomi.

Dikisahkan dalam buku itu bahna ada seorang bocah yang mencari tahu bagaiman seseorang bisa menjadi kaya. Ayah dari anak ini adalah tukang kayu yang bekerja dengan keras siang malam dan sangat keras sebagai tukang kayu.

Namun, dengan bekerja sekeras itu, dia tidak semakin kaya.

Kekayaan, terangnya, justru bisa tercipta bila kita telah menemukan visi apa yang kita inginkan dalam hidup.

Jika kita telah menemukan visi tersebut, langkah selanjutnya akan lebih terlihat jelas dan fokus terarah dengan pedoman.

Pikirkan, tuliskan, lakukan, tinjau kembali.

Roger Hamilton

Apakah ada cara mengembangkan usaha yang pasti berhasil?

Tidak ada cara pasti bagaimana cara mengembangkan usaha dari pengembagan awal hingga besar.

Namun Anda harus tetap mencari fomula jitu dalam mengembangkan usaha Anda.

Semangat dan tetaplah berinovasi..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *