Budidaya Pisang dengan Berbagai Metode dan Tujuan Pemasaran

Posted on

Setelah sebelumnya kita membahas mengenai budidaya Sengon, kali ini kita akan bahas mengenai budidaya pisang.

Pisang merupakan salah satu buah yang tidak pernah tenggelam dipasaran. Itu artinya buah yang satu ini selalu banyak dicari karena tingkat konsumsi buah yang tinggi.

Budidaya pisang

Buah pisang memiliki kandungan vitamin dan nutrisi yang tinggi. Selain itu buah pisang juga dapat diolah menjadi berbagai makanan, minuman maupun cemilan.

Ditambah dengan jenisnya yang beragam mulai dari pisang raja, pisang ambon, pisang sunrise dan masih banyak jenis pisang lainnya.

Dengan banyaknya permintaan pasar yang cukup tinggi akan buah pisang ini, tentu ada peluang usaha yang besar dalam budidaya pisang.

Bagi Anda yang tertarik untuk mencoba bisnis dalam bidang budidaya pisang, mari simak sama-sama penjelasannya secara lengkap.

Nilai ekonomis budidaya pisang

Tanaman pisang cepat tumbuh, dan rata-rata umur 1 tahun sudah berbuah. Oleh karena itu, bagi yang menanamkan modalnya, khusus dibidang usaha tanaman pisang, maka modalnya cepat berputar.

Tanaman pisang cepat berkembang biak, karena pada tahun berikutnya hasil tanaman sudah dapat berlipat ganda hingga 3-4 kali.

Tanaman pisang dapat bertahan dari angin kencang dan musim kering, jika mengalami kerusakan, maka kondisinya mudah membaik seperti semula.

Kesuburan tanah pada tanaman pisang cepat rusak, karena kondisi yang seperti itu memerlukan pemberian rabuk dan pemeliharaan tanah yang baik.

Jika tidak ada perlakuan dan tindakan khusus pada buah pisang yang setelah dipanen, maka pisang itu paling lama bertahan dalam penyimpanan atau pengangkutan sekitar 15 hari. Setelah itu akan cepat membusuk.

Syarat tumbuh

Setiap tanaman memiliki kriteria dan syarat yang berbeda agar tumbuh secara maksimal. Begitupun dengan tumbuhan pisang.

Ada beberapa faktor yang menentukan pertumbuhan pohon pisang secara baik ataupun sebaliknya.

Beberapa faktor tersebut seperti keadaan iklim, tanah dan lingkungan. Nah mari kita bahas satu per satu.

A. Keadaan iklim

Tanaman pisang berada diseluruh dunia, kebanyakkan tumbuh di daerah tropis. Negara penghasil pisang letaknya di sebelah Utara dan Selatan garis khatulistwa.

Walaupun demikian tidak semua daerah dapat menghasilkan pisang dengan baik semua itu bergantung pada faktor iklim dan tanah.

Kedua faktor saling berhubungan erat antara yang satu dengan lainnya. Keadaan iklim dan tanah akan uraian sebagai berikut:

1. Ketinggian daerah

Tidak semua jenis pisang dapat tumbuh di tempat yang sama. Di Indonesia tanaman pisang dapat tumbuh di pegunungan hingga ketinggian 2000 meter dan hawanya rata-rata dingin sekali.

Pisang Ambon, Nangka, Tanduk, dan Badak dapat tumbuh di dataran rendah hingga tempat-tempat yang memiliki ketinggiannya lebih dari 1000 meter.

Sedangkan jenis pisang yang lainnya dari segi pertumbuhan lebih memuaskan meskipun di bawah ketinggian itu tanaman pisang dapat bertahan dari kekeringam karena batangnya banyak mengandung air.

Namun dari pohon pisang yang dilanda kekeringan itu hasilnya tidak bisa diharapkan dengan baik. Kondisi kekeringan dapat teratasi, asalkan keadaan air dalam tanah tidak terlalu dalam atau dengan pengairan yang cukup.

Di daratan rendah daerah aliran sungai Mekong, tepatnya di negara Siam, tanaman pisang jenis Raja Siem bisa tumbuh dan menghasilkan dengan baik, walaupun keadaan iklim antara 5-6 bulan dalam kondisi kekeringan tetapi dengan air di bawah 6-10 meter (Terra).

2. Angin

Indonesia tidak ada angin puyuh (typhon) yang tekanannya sangat kuat dan merusak. Disini hanya dikenal angin kumbang, gending di musim kemarau.

Angin ini tidak memiliki kelembapan, sangat kering, dan deras mengalirnya.

Daun yang dimiliki oleh tanaman pisang tidak begitu kuat menahan angin dengan tekanan tinggi, sehingga daunnya mudah sekali sobek.

Keadaan itu tidak mempengaruhi pertumbuhan dan hasilnya. Faktor angin dapat diatasi dengan cara menanam tumbuhan penahan angin.

3. Curah Hujan

Tananam pisang dapat tumbuh dengan baik, apabila keadaan iklim sebagai berikut.

  1. Curah hujan 1 tahun harus diimbangi dengan keadaan air di dalam tanah.
  2. Curah hujan dalam 12 bulan terus-menerus basah, diimbangi dengan air dalam tanah 50 cm hingga sangat dalam
  3. Kurang dari 9-12 bulan basah dan 2-1 bulan kering, diimbangi dengan air dalam tanah 50-200 cm.
  4. Kurang dari 7 bulan basah dengan 4 bulan kering, diimbangi denqan air di dalam tanah 50-150 cm (hujan basah sama dengan curah hujan jumlahnya lebih dari 100 mm dalam 1 bulan sama dengan 100 mm ke bawah)
  5. Curah hujan yang optimal adalah 1520-3800 mm tahun dengan 2 bulan kering.

B. Keadaan tanah

Tananam pisang menghendaki tanah yang subur. Namun ditanam di tanah yang kritis pun masih bisa menghasilkan, meski hasilnya kurang baik.

Walau tidak begitu cocok tanah yang kering, pisang juga tidak begitu baik jika air yang menggenang terus-menerus. Akar tanaman ini memerlukan peredaran udara yang baik di dalam tanah.

Tak heran bila tanaman pisang yang tumbuh di tepi sungai yang airnya mengalir kebanyakkan dapat tumbuh subur.

Jenis tanah yang disukai tanaman pisang adalah tanah liat yang mengandung kapur atau alluvial dengan pH antara 4,5-7,5.

Oleh karena itu tanaman pisang yang tumbuh di tanah berkapur sangat baik, seperti di Pulau Madura yang banyak memiliki bukit-bukit kapur.

Tanah yang baik untuk budidaya pisang harus memenuhi syarat sebagai berikut.

  1. Tanahnya cerul, banyak mengandung humus;
  2. Tanah yang telah mengalami erosi sehingga tanah bagian atas sudah hilang atau tinggal sedikit saja, tidak akan menghasilkan pisang yang baik;
  3. tanahnya harus agak dalam, sehingga air hujan sangat mudah meresap ke bawah;
  4. air hujan tidak boleh menggenang di atas permukaan tanah, karena itu harus ada pembuangan yang baik sehingga permukaan air dapat turun ke bawah;
  5. tanahnya harus yang subur, artinya cukup banyak mengandung zat-zat yang diperlukan.

C. Keadaan lingkungan

Pertumbuhan tanaman pisang yang baik perlu didukung oleh keadaan lingkungan sebagai berikut.

1. Air

Lokasi perkebunan pisang hendaknya tidak jauh dari sumber air yang cukup dan bebas dari pencemaran limbah industri yang dapat meracuni tanaman pisang.

2. Akses jalan

Lokasi perkebunan pisang hendaknya tidak jauh dari jalan raya, agar tidak menyulitkan pangangkutan sarana dan prasarana produksi pertanian dan pengangkutan hasil (produksi pisang).

Selain itu, lokasi yang dekat dengan jalan raya lebih memudahkan pengawasan kebun dari berbagai bentuk gangguan yang dapat menimbulkan kerugian.

3. Pengembangan lingkungan

Dalam menentukan lokasi kebun, terutama perkebunan besar hendaknya memperhatikan rencana induk kota setempat, agar tidak menimbulkan kerusakan lingkungan hidup.

Misalnya daerah cagar budaya, daerah hutan lindung, dan lain-lain.

Dengan memperhatikan rencana induk kota ini, diharapkan proses produksi dapat berlangsung dengan aman karena sudah sesuai dengan prosedur hukum.

Cara budidaya tanaman pisang

Proses budidaya tanaman pisang ini tidaklah mudah, tetapi memerlukan ketelitian dalam memilih bibit agar hasil buah yang dipanen cukup baik, ada beberapa langkah yang harus dilakukan. Perhatikan langkah-langkah berikut.

A. Pembibitan tanaman tisang

Masalah pembibitan tanaman pisang pada umumnya diperbanyak secara vegetatif (cara berkembang), yaitu menggunakan anakan yang tumbuh dari bonggol induknya.

Selain itu, bibit tanaman pisang juga dapat diperoleh dari bonggol pisang yang telah dibelah-belah atau dikenal dengan nama bibit bit, sedangkan bibit yang berupa anakan disebut sucker.

Pembibitan dengan menggunakan bonggol dapat diperoleh bibit yang seragam dan dalam waktu tidak begitu lama bibit diperoleh cukup banyak.

Selain itu, bibit yang berasal dari bonggol memiliki daya produksi yang lebih tinggi dan hasil masa berbuahnya lebih cepat dibandingkan dengan bibit yang berasal dari anakan.

Bonggol yang dijadikan bibit dapat dipanen ketika umur 529 hari, sedangkan anakan yang dijadikan bibit umur panennya berkisar antara 523-552 hari, tetapi semua itu bergantung dari anakan yang dijadikan bibit.

Penggunaan bibit dari anakan pisang yang sudah dewasa, umur panennya lebih pendek dibandingkan dengan bibit anakan muda ataupun anakan sedang.

Keuntungan lain bibit yang menggunakan bonggol lebih produktif daripada bibit dari anakan.

1 . Pembibitan dari anakan pisang

Bibit anakan tanaman pisang yang baik harus diperoleh dengan cara memilih dari induk yang produktif dan memiliki kualitas yang baik pula.

Ada empat persyaratan dalam memilih bibit anakan pisang yang baik adalah sebagai berikut.

  1. Anakan pisang diambil dari rumpun yang baik dan sehat, tidak terinfeksi penyakit dan hama.
  2. Pilihlah bibit anakan yang sudah dewasa atau yang sudah memiliki daun mekar lebih dari satu helai. Bibit yang telah dewasa menurut pengalaman dapat lebih cepat berbuah dibandingkan dengan bibit anakan yang masih muda.
  3. Mengambil bibit anakan yang masih muda tidak diperkenankan atau dilarang, karena belum berdaun dan pertumbuhan nya akan lambat serta peka terhadap hama penggerak batang pisang.

Pilihlah bibit yang bonggolnya sehat, artinya tidak ada bercak-bercak berwarna coklat atau hitam, karena tanda-tanda itu merupakan tanaman yang terserang penyakit.

2. Pembibitan dari Bonggol Pisang

Syarat untuk mendapat bibit yang baik dari bonggol pisang adalah sebagai berikut.

  1. Bonggol dipilih dari tanaman yang sehat.
  2. Dipilih dari tanaman pisang yang sudah berumur 7 bulan dan belum berbunga.
  3. Terbebas dari penyakit, apabila bonggol tersebut dibelah tidak terdapat bercak merah, maka bonggol itu berwarna putih.
Cara pembuatan bibit dengan menggunakan bonggol pisang adalah sebagai berikut.
  1. Potonglah batang semu kurang lebih 10 cm di atas bonggol.
  2. Bersihkan bonggol dari tanah dan akarnya secara berhati-hati, jangan sampai mata tunas rusak.
  3. Periksalah kesehatan bonggol dengan cara bagian bawah bonggol dan lihatlah belahannya. Bila warna belahan merah berarti terkena penyakit, tetapi apabila belahan berwarna putih berarti dalam keadaan sehat.
  4. Setelah diketahui bonggol itu sehat, lalu bonggol direbus dalam air panas selama 10-15 menit dengan temperatur 250C-500C. Bisa juga dilakukan dengan cara lain, yaitu mencelupkannya ke dalam formalin berkadar 5% selama 20 menit, agar hama dan penyakit dapat terbunuh.
  5. Setelah dibersihkan dari hama dan penyakit, bonggol dibelah-belah menjadi beberapa bagian, (5-10 bagian) bergantung besar-kecilnya bonggol dan mata tunas.
  6. Selanjutnya, belahan-belahan bonggol diangin-anginkan dan dibiarkan hingga satu hari penuh, kemudian disemaikan. Jarak tanam pada bedeng pesemaian adalah 50 x 50 cm. penanaman dilakukan dengan mata tunas menghadap ke atas.
  7. Lakukan pemeliharaan selama 3 bulan dengan memberikan pengairan dan penyemprotan pestisida (apabila terdapat hama penyakit).

Sesudah 3 bulan, bibit biasanya sudah tumbuh 2 helai daun pupus yang telah mekar. Bibit yang demikian sudah siap untuk ditanam di kebun atau pekarangan.

B. Pengolahan tanah

Pengolahan tanah bertujuan untuk menggemburkan tanah sehingga bibit dengan mudah dapat menyerap unsur hara seperti air, udara, dan panas.

Dengan demikian kebutuhan untuk pertumbuhan dan berproduksi tercukupi.

Di samping itu, pengolahan tanah yang sempurna dapat memberantas dan menekan pertumbuhan gulma, menghancurkan sisa-sisa tanaman menjadi humus, mengatur permukaan tanah, dan mengatur kelembaban udara dalam tanah.

Pengolahan tanah untuk tanaman pisang dilakukan melalui beberapa tahap, yakni penggemburan tanah, pemerataan tanah, pembuatan parit-parit untuk saluran irigasi, dan pembuatan lubang tanam.

Media tersebut dapat dibuat cair atau padat. Untuk membuat media cair, bahan dicampur dengan air suling (aqua bidistilata).

Apabila media itu dibuat padat, maka bahan dicampur dengan agar-agar. Untuk memperoleh bahan-bahan tersebut di atas dapat membeli di toko bahan kimia atau apotik.

Berikut tahap-tahap yang harus dilakukan dalam pengolahan tanah.

1. Penggemburan tanah

Tahap penggemburan tanah dilakukan dengan cara dibajak atau dicangkul, kemudian dibiarkan selama satu minggu.

Setelah satu minggu dibajak lagi dan dibiarkan agar bongkahan-bongkahan tanah itu dapat terkena sinar matahari, sehingga bibit-bibit penyakit yang terdapat di dalam tanah bisa mati.

Di samping itu, proses oksidasi (persenyawaan zat asam dengan zat pembakar) gas-gas beracun di dalam tanah dapat berjalan dengan baik.

2. Pemerataan tanah dan membuat bedengan

Tahap pemerataan tanah dilakukan dengan cara dicangkul tipis-tipis sekaligus tanah dihaluskan agar struktur tanah menjadi lemah.

Bersamaan dengan perataan tanah dilakukan pembuatan bedengan. Arah bedengan membujur timur-barat agar sinar matahari dapat menyebar secara merata ke seluruh tanaman.

Ukuran bedengan dapat dibuat dengan lebar 2,80 m untuk jenis pisang yang bertajuk sedang, 1,8 m untuk jenis pisang yang bertajuk sempit.

Ukuran panjang bedengan disesuaikan dengan keadaan lahan dan tinggi bedengan dapat dibuat sekitar 50 cm.

3. Pembuatan parit untuk saluran irigasi

Tahap pembuatan parit-parit bertujuan agar pengairan dapat berjalan dengan lancar. Ukuran parit adalah lebar sekitar 40 cm, kedalaman 50 cm dari permukaan bedeng, dan panjangnya disesuaikan dengan keadaan lahan.

Di samping itu, dibuat pula saluran pembuangan air pada sekeliling petak-petak bedengan dengan ukuran lebar sekitar 60 cm dan kedalaman sekitar 60cm-70cm.

Tujuan dari pembuatan saluran pembuangan ini adalah apabila terjadi kelebihan air dapat dibuang dengan lancar dan cepat, terutama di musim penghujan, sehingga air tidak menggenang di areal tanaman pisang.

4. Pembuatan lubang tanaman

Lubang tanaman dapat dibuat dengan ukuran 60cm x 60cm x 50cm atau 80cm x 80cm x 50cm bergantung pada kesuburan tanahnya.

Pada tanah yang subur dapat dibuat lubang tanam dengan ukuran yang pertama dan untuk tanah yang kurang subur dapat dibuat dengan ukuran yang kedua.

Lubang tanam yang telah jadi dibiarkan terbuka selama 1-2 bulan agar terjadi pemasaman gas-gas beracun dan terbebas dari bibit-bibit penyakit. Penutupan lubang dapat dilakukan bersamaan dengan penanaman.

Yang perlu diperhatikan dalam pembuatan lubang adalah penempatan tanah galiannya.

Separuh tanah galian dari bagian atas diletakkan di sebelah kanan lubang dan separuh galian dari tanah bagian bawah diletakkan di sebelah kiri.

Hal ini dimaksudkan agar antara tanah lapisan bawah (sub oil) tidak bercampur dengan tanah lapisan atas (top oil).

C. Penanaman

Proses pengolahan tanah sampai siap tanam berlangsung cukup lama, yaitu sekitar 2-3 bulan. Oleh karena itu, waktu penanaman yang baik adalah pada awal musim penghujan, yaitu bulan November-Desember.

Tanaman harus ditanam 2 atau 3 bulan setelah pengolahan tanah. Pada awal pertumbuhan tanaman memerlukan air yang cukup.

Jarak tanam harus diatur dengan baik, jangan terlalu rapat karena dapat mengurangi penerimaan sinar matahari sehingga proses fotosintesis (penyesuain karbon) tidak dapat berlangsung dengan baik.

Bila penanam terlalu rapat, maka tingkat kelembaban tinggi dan terjadi persaingan dalam penyerapan air dan unsur hara (air, udara, panas) karena akar-akarnya dari pohon yang satu masuk ke dalam perakaran pohon lainnya.

Akibatnya, adalah hasil buah pisang per satuan luas dapat menurun. Jarak tanam pisang sangat bergantung pada jenis atau kultivar tanaman pisang yang akan ditanam.

Jarak tanam untuk jenis pisang yang mempunyai tajuk lebar adalah 6 x 6 m, untuk jenis pisang yang bertajuk sedang 5 x 5 m, dan untuk jenis pisang yang bertajuk sempit 4 x 4 m.

Sebulan sebelum penanaman, tanah galian dikembalikan seperti semula.

Tanah bagian bawah (sebelah kiri) masuk lebih dahulu baru kemudian tanah bagian atas dicampur pupuk kandang 8-10 kg bagi lubang tanam yang berukuran 60cm x 60cm x 50cm.

Untuk lubang tanaman yang berukuran 80cm x 80cm x 50cm sebanyak 13-15 kg, bergantung pada tingkat kesuburan tanahnya.

Sesudah itu, lubang tanam dibiarkan selama sebulan baru kemudian ditanami bibit pisang.

Cara menempatkan atau memancapkan bibit pisang adalah sebagai berikut.

  1. Lubang tanam yang tanah galiannya sudah dikembalikan seperti semula tadi dikuak dengan menggunakan cangkul dengan kedalaman 25 cm, bergantung besar-kecilnya bonggol bibit yang ditanam.
  2. Tempatkan bibit pisang pada kuakkan tersebut dengan memperhatikan kedalaman tanam. Usahakan agar bonggol pisang tertanam penuh, kira-kira 5 cm di bawah permukaan datar.
  3. Bila keadaan tanahnya kering, siram dengan air secukupnya.
  4. Padatkan tanah sekeliling pohon itu dengan cara diinjak-injak.

Perawatan tanaman pisang

Budidaya pisang termasuk jenis budidaya yang tidak banyak memerlukan perawatan yang rumit, cukup melakukan tindakan sebagai berikut

A. Penyiangan dan penggemburan tanah

Penyiangan bertujuan untuk membersihkan rumput gulma ataupun tanaman lain yang mengganggu pertumbuhan tanaman pisang.

Sedangkan penggemburan bertujuan untuk memperbaiki bentuk tanah yang terlalu padat, sehingga diperoleh kembali bentuk tanah yang lemah.

Penyiangan dan penggemburan dapat dilakukan dalam waktu bersamaan dengan cara berhati-hati. Sebab, tanaman pisang mempunyai sistem perakaran yang dangkal.

Perakaran yang rusak waktu penggemburan atau penyiangan dapat menyebabkan infeksi yang pada akhirnya dapat menyebabkan proses penyerapan unsur hara yakni air, udara, dan panas terganggu.

Dengan demikian dapat mempengaruhi proses fisiologis tanaman sehingga produksinya menurun.

Penyiangan dan penggemburan pada tanaman pisang dapat dilakukan seperlunya saja, bergantung pada keadaan kebun.

Dalam satu tahun dapat dilakukan sekitar 3-4 kali penyiangan dan penggemburan dengan cara membersihkan semua tanaman pengganggu.

Penggemburan dapat pula memperlancar peredaran udara dalam tanah, bentuk tanah menjadi gembur, dan drainase tetap terpelihara.

B. Pemberian pupuk

Pemupukan merupakan paling penting dan mutlak diberikan agar tanaman dapat tumbuh subur dan hasil yang diperoleh cukup memuaskan atau produktif.

Pupuk yang diberikan pada tanaman pisang meliputi Nitrogen, Fosfor, dan Kalium

1. Unsur nitrogen

Berfungsi menjadikan daun hijau sedang mempercepat pertumbuhan (vegetatif) serta menambah kandungan protein pada buah.

2. Unsur fosfor

Untuk merangsang pertumbuhan dan perkembangan akar, sehingga dapat lebih banyak mengambil unsur hara (air, udara, panas) dari dalam tanah.

Selain itu, tanaman tidak mudah roboh, mempercepat pembentukan bunga, merangsang pertumbuhan, dan menambah ketahanan tanaman dari serangan hama penyakit.

3. Unsur kalium

Berfungsi memperkuat batang tanaman, membantu proses fotosintesis dan meningkatkan kualitas buah serta menambah ketahanan tanaman.

Berdasarkan standar kebutuhan pupuk tersebut, maka secara kasar dapat diperhitungkan kebutuhan pupuk urea, TSP, dan KCI untuk tanaman pisang sebagai berikut.

  1. Kebutuhan pupuk urea berkisar antara 445 kg-889 kg/hektar/tahun
  2. Kebutuhan pupuk TSP berkisar antara 94 kg-125 kg/ hektar/tahun
  3. Kebutuhan pupuk KCI berkisar antara 436 kg-875 kg/ hektar/tahun

Pemberian pupuk anorganik dilakukan sebanyak empat kali dalam satu tahun, yaitu:

  1. Tahap I: 30 hari setelah tanam, dosis % bagian
  2. Tahap II (susulan ll): 4 bulan setelah tanam, dosis % bagian
  3. Tahap III (susulan III): 7 bulan setelah tanam, dosis % bagian
  4. Tahap lV (susulan N: 11 bulan setelah tanam, dosis % bagian

Pemupukan dengan pupuk anorganik dilakukan dengan cara diletakkan pada parit-parit yang dibuat melingkar di sekeliling tanaman yang berjarak 60-75 cm dari batang tanaman.

Setelah itu parit ditimbun tanah kembali. Kedalaman parit untuk menempatkan pupuk adalah sekitar 30 cm.

Pemberian pupuk kandang sebagai pupuk dasar dapat dilakukan dengan cara dicampur dengan galian tanah lapisan atas.

Sedangkan cara pemberian pupuk kandang yang diberikan sebagai pupuk susulan dapat dilakukan dengan cara yang sama seperti pemberian pupuk anorganik.

C. Pengairan

Air merupakan kebutuhan utama dalam pertanian. Fungsi pengairan dalam dunia pertanian adalah sebagai berikut.

  1. Untuk mencegah tanaman menderita kekeringan.
  2. Untuk mengatur suhu dan kelembaban tanah sehinga sesuai dengan yang dikehendaki tanaman.
  3. Untuk melarutkan dan meratakan penyebaran pupuk atau zat-zat makanan yang diberikan dalam tanah sehingga mudah diserap oleh tanaman.
  4. Untuk menetralisasi tanah dari bahan yang berbahaya, seperti garam-garam dan asam-asam yang terlalu tinggi yang dapat meracuni tanah dan tanaman.
  5. Penggenangan air dilakukan, karena dapat memberantas hama dan penyakit.
  6. Bersamaan dengan unsur-unsur lain dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman dan pembentukkan hasil buah.

Sedangkan air dalam usaha pertanian, khususnya dalam budidaya pisang, memang mutlak diperlukan.

Akan tetapi tidak sembarang air yang dapat digunakan untuk pengairan. Ada beberapa kriteria yang harus diperhatikan dalam penggunaan air adalah sebagai berikut.

  1. Air harus banyak mengandung mineral dan unsur-unsur hara lainnya yang sangat diperlukan oleh tanaman.
  2. Air tidak boleh mengandung bahan-bahan yang beracun, karena dapat mengganggu pertumbuhan tanaman dan berpengaruh negatif terhadap tanah.
  3. Sumber air yang digunakan tidak berasal dari saluran pembuangan limbah industri.

Setelah kriteria dipenuhi, selanjutnya cara pemberian air untuk pengairan pada tanaman pisang dapat dilakukan dengan berbagai macam cara.

Berikut ini beberapa cara pemberian air untuk pengairan pada tanaman pisang:

  1. Air dapat dialirkan ke permukaan tanah melalui selokan-selokan di antara bedengan-bedengan tanaman, sehingga mudah air terserap ke dalam tanah sampai ke akar tanamannya. Metode ini dapat dilakukan dengan membuat legokan-legokan sebagai tempat penyiraman air, atau dengan membuat parit-parit di antara bedengan-bedengan tanaman.
  2.  Selain itu, pemberian air dapat dilakukan di antara barisan tanaman atau dengan cara penggenangan sesaat hingga tanah cukup basah. Pengairan dapat dilakukan dengan semprotan yang bertekanan tinggi. Metode ini dapat dilakukan secara manual, yaitu dengan menggunakan gembor.

D. Pemberian tonggak penyangga

Setelah tanaman mulai berbuah, yaitu sekitar umur 12-15 bulan sejak bibit ditanam, maka segera diberi tonggak penyangga agar tidak mudah roboh karena beban buah pisang tersebut sangat berat.

Apabila hal itu terjadi, maka hasil mutu dan harganya menjadi rendah. Sebaiknya, yang perlu dihindari adalah jangan sampai terjadi tanaman pisang yang buahnya belum tua atau masak itu roboh.

Alat yang dibuat tonggak penyangga untuk tanaman pisang adalah cukup dengan bambu. Di samping harganya murah juga daya tahannya cukup kuat sebagai penyangga.

Ukuran bambu hendaknya disesuaikan dengan tinggi dan besarnya tanaman. Tanaman pisang yang tinggi dan besar.

Sebaiknya menggunakan bambu yang berukuran besar dan panjang.

Sebaliknya untuk tanaman pisang yang berbatang kecil dan tidak terlalu tinggi dapat menggunakan bambu yang berukuran kecil atau sedang dan tidak terlalu panjang.

Pemberian tonggak ini diakukan dengan cara menempatkan ujung tonggak sedikit di bawah tangkai tandan, yakni sekitar 40 cm.

Hama tanaman pisang

Berikut ini beberapa jenis hama yang sering menyerang tanaman pisang.

1. Uret

Uret menyerang tanaman pisang pada bagian batang sampai umbi batang bagian bawah (bonggol). Serangan ini menyebabkan batang dan umbi batang berlubang.

Untuk mencegah serangan uret, rendam bibit tanaman pisang dalam larutan insektisida selama 15 menit sebelum ditanam.

Cara lain, dengan membenamkan insektisida ke dalam tanah di sekitar tanaman. Bahan yang dapat digunakan adalah Diazenon 3 G atau Furadan 3 G (berbahan aktif diazinon atau carbofuran).

2. Ulat

Hama ulat menyerang buah pisang sehingga menurunkan kualitasnya. Penampilan buah pisang menjadi jelek dengan noda hitam kelabu dan keras.

Agar serangan ulat buah tidak meluas ke buah yang lain, taburi buah dengan campuran peritrum dan bubuk kapur dengan perbandingan 1:3 (1 bagian piretrum dan 3 bagian bubuk kapur).

Gunakan alat penghembus untuk menaburkannya. Lakukan 4 atau 6 hari sekali.

3. Codot

Codot adalah hewan mamalia yang menyerupai kelelawar. Badannya kecil dengan bulu halus kelabu kecokelatan.

Hama ini memakan buah, terutama yang sudah masak pada malam hari. Pada siang hari codot tidur menggantung di dahan pohon/tanaman.

Pemberantasan hama ini dilakukan secara mekanik menggunakan ketapel atau senapan angin. Selain itu dapat pula dengan memasang jaring atau jala di sekitar tanaman.

4. Ulat penggulung daun (Erionota thrax)

Hama ini merusak daun pisang, daun akan terpotong-potong dan membentuk gulungan.

Pada akhirnya tanaman pisang menjadi gundul, tinggal tulang-tulang daunnya saja.

Pemberantasan hama ini dilakukan dengan memangkas bagian daun yang terserang dan kemudian membunuh ulatnya

5. Nematoda (Radopholus similis)

Bagian tanaman yang diserang adalah akar dan umbi/bonggolpisang. Pada bagian tanaman yang diserang akan tampak noda-noda berwarna gelap dan membusuk.

Akibatnya, tanaman tumbuh kerdil. Seandainya tanaman masih dapat berbuah, hasilnya sedikit dan kecil-kecil.

Usaha preventif yang dapat dilakukan untuk mencegah serangan nematoda adalah dengan mendesinfektan terlebih dahulu bibit pisang yang akan ditanam dengan nematisida.

6. Bekicot (Achatina fulica)

Bekicot sering menyerang tanaman pisang, terutama daunnya. Bekicot makan daun pisang sedikit demi sedikit hingga habis.

 Serangan bekicot dapat menyebabkan tanaman pisang layu, kering, dan mati. Hama ini menyerang pada malam hari.

Pemberantasan bekicot dilakukan secara mekanis, dengan pakan ternak, terutama itik.

7. Penggerek batang

Hama penggerek batang yang dikenal adalah kepik (Odoiporus longicollis). Batang yang terinfeksi akan berlubang lubang dan membusuk.

Batang tanaman menjadi lemah, mudah patah, dan roboh. Karena batangnya diserang, penyaluran unsur-unsur makanan ke daun menjadi tehambat.

Pengendalian hama penggerek batang dilakukan dengan sanitasi mengingat hama ini tumbuh dan berkembang biak pada sampah yang membusuk.

8. Ngengat buah (Nacoleia octasema)

Ngengat buah menyerang bunga dan buah yang masih muda. Buah yang terserang akan mengalami penurunan kualitas.

Pada kulit buah akan terlihat noda cokelat keabu-abuan yang kasar sehingga sering disebut penyakit kudis buah pisang.

Pemberantasan dilakukan dengan penyemprotan insektisida pada bunga jantung  pisang yang seludangnya sudah membuka.

Jenis insektisida yang dapat digunakan adalah Basudin 60EC ataupun Nugos 5o EC.

9. Lalat buah

Serangan Ialat buah menyebabkan seludang (daun buah) berubah bentuk dan menyebabkan buah gugur.

Serangan Ialat buahjuga menyebabkan infeksi sekunder oleh jamur sehingga buah membusuk.

Pencegahan dan pengendalian lalat buah ini dilakukan dengan membuang buah yang terserang dan menghancurkannya.

10. Kumbang daun pisang (Exopholls hypoceuca)

Tanaman pisang yang diserang kumbang ini akan kehilangan daunnya tinggal pelepah saja. Pada serangan yang berat, tanaman pisang akan berdiri tegak tanpa tangkai daun.

Pencegahan dan pengendalian kumbang daun pisang dilakukan dengan memunguti larva yang ada di dalam tanah, mengumpulkannya dan kemudian membunuhnya.

Selain itu dapatjuga disemprot insektisida berbahan aktifcypermethrin, misalnya Cymbush 50 EC, Demon 100 EC, Prevail240 EC, Devalen 50 EC, dan sebagainya.

11. Kumbang penggerek umbi (Cosmopolitus sordidus)

Daun tanaman pisang yang diserang kumbang penggerek umbi akan tampak menguning dan layu dan tanamannya tumbuh kerdil. Pada serangan yang berat, batang akan membusuk hingga tanaman mati.

Pencegahan dan pengendalian kumbang penggerek umbi dilakukan dengan menjaga kebersihan kebun.

Menimbun sisa tanaman pisang yang telah dipanen, memangkas daun yang telah tua dan rebah, memangkas batang-batang semu yang telah kering, mengurangi jumlah anakan secara teratur.

Panen, penanganan pasca panen dan pemasaran

Panen, penanganan pasca panen, dan pemasaran merupakan kegiatan yang berpengaruh terhadap kualitas buah yang dipetik dan besarnya keuntungan usaha tani.

Penanganan panen,pasca panen, dan pemasaran yang tidak tepat akan menyebabkan keuntungan yang diperoleh usaha tani tidak maksimal.

A. Penanganan panen

Pisang mulai berproduksi dan bisa diambil hasilnya 10-15 bulan setelah tanam atau 3-4 bulan setelah berbunga, tergantung varietasnya.

Beberapa jenis pisang memiliki umur panen pendek, namun ada yang memiliki umur panen panjang.

Berbeda dengan tanaman buah yang lain, tanaman pisang hanya berbuah satu kali dan setelah berbuah akan mati.

Oleh karena itu tanaman pisang yang sudah diambil buahnya harus segera dibongkar, diganti dengan tanaman pisang yang baru atau dengan memelihara anakannya yang tumbuh.

durasi panen pisang

Buah pisang yang dipetik sebelum mencapai tingkat kematangan yang tepat akan berkualitas rendah, kurang manis, aroma kurang kuat, tekstur lembek, daging buah kurang berisi, dan penampilan buah kurang menarik.

Hal ini karena perkembangan fisik dan kimia buah belum optimal. Harga jualnya menjadi rendah.

Sebaliknya, buah pisang yang dipetik setelah mencapai tingkat kematangan yang tepat akan menjadi buah pisang berkualitas tinggi, berasa manis, beraroma kuat, berpenampilan menarik, daging buah padat berisi, dan berukuran besar.

Buah pisang yang demikian akan mempunyai harga yang tinggi. Pemetikan yang terlambat juga berpengaruh terhadap kualitas buah.

Daya simpan menjadi pendek, cepat rusak atau busuk.

Buah pisang yang telah mencapai derajat kematangan optimal memiliki tanda berikut.

  1. Bentuk buah pisang sudah bulat dan berisi, minimal sudah bulat.
  2. Kulit buah sudah hijau kekuningan atau buah sisir bagian atas sudah ada yang kekuningan atau sudah matang.
  3. Bunga atau tangkai putik yang terdapat pada ujung buah telah mengering dan gugur.
  4. Daun bendera sudah kering.

Budidaya pisang pemasaran jarak jauh

Untuk pemasaran jarak jauh antar daerah, antar pulau atau antar negara, buah pisang sebaiknya dipetik pada stadium ketuaan 50% penuh, yakni sudah tua namun masih mentah, umur petik 80-120 hari sejak tanaman berbunga.

Pada stadium ini buah pisang memiliki daya simpan lebih lama, akan matang 2-3 minggu kemudian.

Apabila dijual ke pasar lokal,akan lebih baik apabila pemetikan dilakukan pada stadium matang penuh, yakni apabila sudah ada beberapa buah yang matang, berumur 110-150 hari setelah tanaman berbunga.

Pada stadium ini daya simpan buah pisang lebih pendek. Umumnya buah akan matang secara keseluruhan 3-4 hari kemudian.

Untuk pemasaran jarak sedang, sebaiknya buah pisang dipetik pada tingkat ketuaan 90%, ditandai bentuk buah sudah berkembang penuh tetapi sudut-sudut buah masih tampak.

Pada tingkat ketuaan ini buah akan matang dalam waktu 1-2 minggu.

Untuk menjaga kualitas buah tetap baik, pemetikan buah harus dilakukan dengan hati-hati agar buah tidak mengalami kerusakan mekanis.

Cara panen yang benar adalah dengan menggores atau menusuk-nusuk batang pisang yang akan dipetik buahnya pada ketinggian 3A dari permukaan tanah.

Kemudian merobohkannya pelan pelan sambil menyangganya dengan bambu sehingga buah tidak membentur batang pisang atau tanah.

Setelah batang pohon pisang roboh, tandan dipotong dengan hati-hati agar tidak merusak buah.

Pemanenan hendaknya tidak dilakukan pada saat hujan atau segera sesudah hujan. Pemanenan hendaknya dilakukan pada saat cuaca cerah tetapi tidak terlalu panas, misalnya pada pagi atau sore hari.

Setelah dipanen, usahakan agar buah pisang tersebut tidak terlalu lama bersentuhan dengan tanah, tidak kehujanan ataupun terkena panas sinar matahari secara langsung.

Hal itu akan menyebabkan buah cepatrusak dan busuk. Pisang yang baru saja dipanen harus diberi pelindung atau ditempatkan di bawah tanaman/bangunan peneduh.

B. Penanganan pasca panen

Penanganan pasca panen adalah suatu rangkaian kegiatan yang dimulai dari pengumpulan hasil panen sampai buah pisang siap dipasarkan.

Kegiatan pasca panen yang perlu mendapat perhatian adalah grading dan sortasi, pemeraman, dan pemasaran.

1. Grading dan sortasi

Sebelum sortasi dilakukan, hendaknya tandan pisang disisir terlebih dahulu dengan pisau tajam. Penyisiran harus dilakukan dengan hati-hati, jangan sampai melukai buah.

Selanjutnya buah dibersihkan dari debu dan disemprot fungisida untuk mencegah serangan jamur selama dalam penyimpanan.

Setelah itu sortasi dan grading dilakukan. Sortasi bertujuan untuk memilih dan memisahkan buah pisang yang baik dari buah pisang yang kurang baik atau rusak.

Sementara grading bertujuan untuk mengelompokkan buah pisang yang telah di sortasi menjadi beberapa kelas, misalnya kelas A, B, C, dan seterusnya.

Sortasi dan grading biasanya dilakukan berdasarkan ukuran, kerusakan mekanis, tingkat kematangan, bobot buah, keseragaman warna, jenis pisang dan kerusakan yang disebabkan oleh hama atau penyakit.

Buah yang baik dipilih dan dipisahkan dari buah yang cacat atau rusak.

Setelah itu dilakukan pemilihan tahap kedua dan mengelompokkannya kedalam kelas yang sama berdasarkan criteria tersebut di atas.

Manfaat sortasi dan grading adalah:

  1. Stabilisasi dan tingkat harga yang tinggi terjamin karena dengan keseragaman menurut kelas dapat membantu produsen atau penjual untuk menentukan tingkat harga menurut jenis dan kualitasnya.
  2. Dapat memberikan keuntungan yang lebih besar karena dengan pengelompokan buah kedalam kelas-kelas, buah pisang dengan kelas tinggi akan memiliki harga jual yang lebih tinggi daripada harga jual buah pisang kelas di bawahnya.Dengan demikian akan dapat diperoleh keuntungan yang lebih besar.
  3. Memudahkan pembeli untuk memilih kualitas buah yang dikehendaki sesuai kebutuhannya.
  4. Dengan pengelompokan akan diperoleh keseragaman buah menurut jenis dan kualitas nya sehingga sangat membantu konsumen dalam memilih buah yang diinginkan.
  5. Memudahkan pemasaran sesuai dengan standar kualitas yang telah ditetapkan sehingga program pemasaran bersama dapat dilakukan, baik untuk pemasaran dalam negeri maupun luar negeri.
  6. Sortasi dan grading dapat meningkatkan kepercayaan konsumen dan mendatangkan pelanggan baru sehingga dapat memperluas pemasaran.

2. Pemeraman

Pemeraman bertujuan mempercepat proses kematangan buah,membuat buah matang secara serentak sehingga didapatkan buah pisang dengan tingkat kematangan dan warna yang seragam.

Tanpa pemeraman, buah pisang akan matang dalamwaktu yang agak lama dan dengan tingkat kematangan yang beragam.

Ada yang belum matang, ada yang sudah matang, ada yang sudah sangat matang, dan bahkan ada yang sudah mulai membusuk.

Dengan pemeraman, buah pisang dapat matang dalam waktu yang relatif pendek dan secara bersamaan, yaitu 2-4 hari, tergantung cara pemeramannya.

Pemeraman buah pisang dilakukan dengan berbagai macam cara, antara lain:

a. Pemeraman menggunakan karbit

Buah pisang disusun dalam satu wadah, masih dalam bentuk tandan atau sudah disisir. Setiap sudut wadah diberi karbit yang dibungkus kertas.

Selanjutnya susunan buah pisang tersebut ditutup dengan plastic atau karung goni selama 2 hari. Setelah itu tutup dibuka dan buah diangin-anginkan.

Dengan cara ini buah pisang akan matang secara serempak dalam 2-3 hari. Untuk memeram 1 ton pisang, cukup diberikan 1 kg karbit.

b. Pemeraman dalam tempayan tanah liat

Buah pisang disusun dalam tempayan yang terbuat dari tanah liat kemudian ditutup dengan kuali besar.

Agar tertutup rapat,antara tempayan dan kuali diberi perekat berupa tanah liat agar udara tidak dapat keluar-masuk.

Selanjutnya lakukan pembakaran secukupnya agar udara di dalam tempayan menjadi panas. Dengan perlakuan ini maka buah pisang akan matang dalam 2-3 hari.

c. Pemeraman dengan daun-daunan

Buah pisang yang akan diperam dimasukkan kedalam wadah yang telah diberi alas daun.

Selanjutnya bagian atas ditutup dengan daun, kurang lebih seperlima berat pisang yang diperam.

Dengan cara ini buah pisang akan matang dalam 3-4 hari. Daun yang biasa digunakan antara lain daun gamal, daun mindi, dan daun pisang.

d. Pemeraman dengan cara diasap (Pengemposan)

Buah pisang dimasukkan kedalam lubang tanah. Ukuran lubang disesuaikan dengan banyaknya buah pisang yang diperam.

Selanjutnya lubang ditutup papan atau bambu dengan rapat dan kemudian ditimbun tanah. Pengasapan dilakukan dengan memasukkan asap melalui bumbung bambu yang dimasukkan ke dalam lubang pemeraman.

Pengasapan dilakukan dua kali, setiap 12jam. Setelah diasapi, buah pisang didiamkan di dalam lubang selama satu malam dan setelah itu buah dapat segera dibongkar.

Pemeraman buah pisang dapat juga dilakukan dengan cara lain, yaitu dengan menggunakan gas etilen yang dialirkan ke dalam lubang pemeraman selama beberapa hari, menggunakan larutan ethrel ataupun ethepon.

Penutup

Dalam perkembangannya, budidaya pisang menjadi primadona bisnis tani yang kerap dilakukan pada sekala perkebunan maupun pekarangan.

Budidaya pisang berperan langsung menopang perekomonian dari sektor agribisnis.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *